Seni Mengeluarkn Karyawan

Seni Mengeluarkan KaryawanInikah masalah Anda:

  • Merasa sudah terlalu baik dengan karyawan, tapi mereka malah nglunjak?
  • Penipu, malas, alasan, atau..
  • Ada hubungan saudara Anda, istri Anda, atau kucing Anda, sehingga enggan memecat?

Bagi pengusaha skala UKM, biasanya memiliki kendala-kendala diatas, karena SOP tentang SDM biasanya belum ada. Tapi tak ada salahnya mulai dari yang sederhana dan mutlak diperlukan. Yuk simak..

 

Sebelum belajar mengeluarkan karyawan, baiknya cek dulu apakah aturan dibawah ini sudah Anda lakukan:

 

Aturan 1:  Rekrut karyawan yang benar >> First WHO, then WHAT. “Karyawan yang benar, tak perlu dimotivasi berlebih, cukup diarahkan” ~ Jim Collins. Benar secara attitude: jujur, rajin, handal, “gak pake tapi dan nanti”. Jangan toleransi hal attitude. Gak ada yang masuk kualifikasi? Ya cari sampai dapat yang ‘benar’..!

Aturan 2: Adakan perjanjian masa percobaan, “3 bulan gak cocok, apapun alasannya, saya akan mengeluarkan Anda..!”.

Aturan 3: Berikan kejelasan apa tugas dan wewenang mereka, serta indikator penilaian benar atau salahnya. Terbaik adalah tertulis, jika lisan yang penting JELAS dan dia paham.

Aturan 4: Ajarkan >> dia berbuat salah bisa jadi karena GAK TAU mana yang BENAR.

Aturan 5: Praktik >> uji di lapangan, ukur hasilnya. Salah? Coba berikan kesempatan 3 x. Masih salah?

Aturan 6: Evaluasi >> Jangan-jangan dia bakatnya di tempat yang lain? Tanyakan & Lakukan MUTASI ke tmpat yang TEPAT. Ingat: Jika WHO (Attitude) nya tepat, tempatnya saja yang salah. Selama mau belajar dan mencoba, berilah kesempatan.

Aturan 7: Memimpin dengan Teladan. Jangan suruh orang kerja keras, kalo kita juga malas-malasan >> Salah kaprah tentang ‘BOSS’. Mau karyawan Anda rajin? Ya tunjukkan Anda adalah TERAJIN. Mau karyawan Anda handal? Ya Anda jangan tukang alasan..!

 

Kalo ke 7 aturan itu sudah diterapkan, ternyata karyawan masih menyimpang hasilnya, itu WHO-nya salah. Boleh dipecat..! Cara halusnya gimana?

 

Pertama bisa di-SKAK dengan aturan/KPI/target yang telah diterapkan. Itu paling elegan..

Kedua, jika itupun kamu masih sungkan, gunakan suara TIM untuk membantu meminta dia untuk mundur >> Cukup Ampuh.

Ketiga, PINDAHKAN posisinya di tempat yang tidak ia sukai (tapi tak membahayakan perusahaan). Misal, dia adalah orang ‘LUAR’, pindahkan ke bagian ‘DALAM’ dan sebaliknya. Langsung kayak cacing kepanasan. Orang ‘sales’ gak akan betah di bagian ‘admin’ yang perlu ketelitian dan menghadapi berkas, demikian juga sebaliknya. Panasss… Apalagi jika ditambah penerapan indikator nilai (KPI) di bagian tersebut. Tinggal tunggu dia mundur atau melanggar KPI.

 

Ingat: Mereka yang ‘busuk’ jika didiamkan akan menjadi VIRUS bagi yang lainnya. Pilihan: Amputasi atau yang lain ikut tertular? Memecat karyawan adalah 1 paket konsekuensi yang harus dihadapi oleh seorang pengusaha saat Anda merekrut mereka. Memang tidak mengenakkan, tapi mau gak mau harus Anda lakukan untuk menyelamatkan ‘kapal’ Anda.

Tak perlu meraih predikat “Mr Nice Guy”, jika akhirnya perusahaan bangkrut karena ada virus di dalamnya. Tegas, bukan berarti Sadis. Kasihi yang pantas dikasihi. Tak perlu terlibat emosi saat mengeluarkan mereka. Ini hanya urusan bisnis, bukan personal. Yuk belajar naik tingkat dengan ketegasan..

Ingin Merekrut Karyawan Pertama Anda? Ketahui Dulu Caranya

Merekrut Karyawan

Bisnis yang mulai berkembang ditandai dengan meningkatnya jumlah pesanan maupun jumlah pelanggan. Keadaan seperti ini tentu tidak bisa lagi ditangani lagi oleh Anda seorang. Terlalu merepotkan. Anda perlu segera merekrut karyawan.

Tapi hal ini tidaklah mudah… Mengapa?

Merekrut karyawan pertama akan selalu menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh semua bisnis yang baru berkembang. Hal ini dikarenakan, umumnya bisnis baru, masih belum memiliki pengalaman ataupun pengetahuan tentang tata cara memilih karyawan yang sesuai dengan kebutuhan.

Padahal fase perekrutan adalah fase yang krusial. Jika fase ini gagal, nasib bisnis Anda lah yang jadi taruhannya. Berikut adalah langkah praktis untuk merekrut karyawan pertama Anda.

Coba Tanyakan “ Apakah Saya Butuh Karyawan Saat Ini ? “

Sebelum memutuskan untuk merekrut seorang karyawan, pertimbangkan terlebih dahulu secara matang. Cara paling ampuh adalah dengan menanyakan pertanyaan “ Apakah Saya Butuh Karyawan Saat Ini ? “ ke diri Anda. Lalu, coba jawab dan lakukan penilaian, apakah memang merekrut karyawan sudah sangat mendesak sekali untuk Anda.

Jabarkan Tugas dan Tanggung Jawab Untuk Pekerja Tersebut

Setelah Anda yakin akan perlunya merekrut karyawan baru, jabarkan tugas serta tanggung jawab yang akan Anda percayakan pada calon karyawan kelak. Hal ini akan mempermudah Anda juga untuk menentukan kualifikasi karyawan seperti Apa yang harus Anda rekrut.

Tentukan Kualifikasi Karyawan Yang Anda Inginkan

Jika tugas dan tanggung jawab yang dibutuhkan telah dibuat, membuat kualifikasi karyawan yang ingin direkrut pun akan lebih mudah. Kualifikasi adalah kriteria karyawan yang dianggap cocok menempati suatu jabatan. Bisa kriteria usianya, apakah sudah memiliki pengalaman, pendidikan minimalnya SMA atau S1, dan banyak lagi. Kualifikasi juga akan membantu Anda menilai serta menseleksi secara objektif para calon karyawan yang nantinya akan melamar kerja.

Lihat Ketersediaan Tenaga Kerja Yang Anda Butuhkan

Setelah menentukan kualifikasi karyawan yang Anda cari, silahkan cek apakah kriteria pegawai yang hendak Anda rekrut tersebut tersedia di lingkungan terdekat Anda. Misalnya, apakah mereka dapat dengan mudah ditemukan di sekitar rumah, kota, provinsi, pulau atau negara tempat Anda/ bisnis Anda berlokasi. Bila tidak tersedia, lakukan penyesuaian pada kualifikasi karyawan yang Anda cari. Bisa dengan menurunkan standar minimal pendidikan, contoh dari S1 menjadi SMA dan lain-lain.

Jujur

Saat sang calon karyawan sudah berhasil didapat dan selama proses seleksi/ wawancara ia terlihat memenuhi kriteria Anda, ini saatnya Anda beritahukan pekerjaan dan juga kompensasi yang akan ia terima. Dalam tahap ini, pastikan Anda berkata jujur dan apa adanya. Jangan terlalu melebih-lebihkan atau menjanjikan sesuatu yang terlalu besar, hanya karena khawatir karyawan tersebut berubah pikiran dan tidak mau bekerja di perusahaan Anda bila kompensasinya terkesan kecil.

Sebagai pemilik bisnis yang baru berkembang, Anda harus realistis. Jika pekerja itu bagus, namun tidak siap menerima kompensasi yang Anda tawarkan, berarti ia tidak berjodoh dengan bisnis Anda. Carilah lagi yang kompeten dan juga jujur namun juga siap berjuang membesarkan bisnis Anda bersama-sama.

Merekrut karyawan adalah fase awal dari sebuah bisnis yang akan tumbuh menjadi perusahaan besar. Maka karyawan yang Anda pilih kelak, akan memiliki dua fungsi, pertama sebagai stimulan yang memperbesar omset dan profit, atau justru melemahkan bisnis itu sendiri. Jadi, bijaklah saat merekrut mereka. Semoga bermanfaat.

3 Tips Membangun Hubungan Yang Baik Dengan Karyawan

Karyawan

 

Sebagai seorang entrepreneur, tentunya anda sangat menyukai jika para karyawan anda merasa senang dalam melakukan pekerjaannya. Tapi apakah membuat karyawan menjadi senang adalah prioritas utama dari bisnis yang anda jalankan? Jawabannya YA. Dengan menjadikan tempat kerja lebih menyenangkan untuk karyawan anda, tentunya sangat bermanfaat dan bahkan bisa menghemat pengeluaran serta mengoptimalkan potensi bisnis anda.

Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Teresa M. Amabile dan Steven J. Kramer dariHarvard University pada tahun 2010 membuktikan bahwa karyawan yang senang akan menghasilkan energi positif dalam tempat kerjanya, dan juga membuatnya lebih produktif dalam melakukan pekerjaaannya, yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas dari bisnis yang anda miliki.

Tapi bagaimanakah untuk membuat karyawan anda menjadi senang? Jill Geisler pernah menuliskan beberapa tips untuk mewujudkan hal ini dalam bukunya yang berjudul Work Happy: What Great Bosses Know. Berikut adalah 3 tips rahasia untuk membuat karyawan anda lebih senang saat melakukan pekerjaaannya. Continue reading →

5 Strategi Sederhana Untuk Membuat Pelanggan Anda Kembali Lagi

pelanggan kembali

 

Apa yang harus Anda lakukan setelah seseorang selesai bertransaksi dengan Anda? Mengulanginya lagi!

Pelanggan yang datang lagi (atau biasa disebut repeat customer) adalah salah satu elemen penting pendongkrak keuntungan bisnis Anda. Ada beberapa alasan Anda harus memprioritaskan repeat customer selain menjaring pelanggan baru:

  1. Repeat customer kemungkinan besar akan datang tanpa Anda harus mempromosikan bisnis Anda lagi kepada mereka. Hal ini akan membuat repeat customer memiliki nilai biaya promosi yang lebih rendah ketimbang menjaring pelanggan baru.
  2. Repeat customer adalah iklan berjalan. Mereka lah pelanggan yang telah puas berbelanja di tempat Anda dan akan mengajak siapapun untuk berbelanja ditempat Anda.
  3. Repeat customer biasanya perduli akan bisnis Anda dan akan memberikan saran atau masukan yang membangun. Hal ini karena mereka telah memiliki pengalaman berbelanja di tempat Anda dan (dengan sadar atau tidak) akan membandingkan bisnis Anda dengan bisnis yang lain.

Karenanya sangat penting menjaga hubungan dan membuat pelanggan Anda kembali, Berikut ini adalah 5 strategi sederhana yang dapat Anda gunakan untuk membuat pelanggan Anda “kangen” dengan Anda: Continue reading →

5 Cara untuk Membuat Bisnis Anda “Naik Kelas”

Startup

 

Semua pengusaha yang saat ini telah memiliki sebuah perusahaan besar pernah mengalami masa “Start-up”, masa dimana mereka baru pertama kali memulai bisnisnya dengan modal dan sumber daya yang sangat terbatas. Menjalankan sebuah startup sangatlah menguras tenaga, waktu dan pikiran, serta beresiko sangat tinggi untuk gagal.

Start-up adalah keadaan dimana suatu usaha atau bisnis yang masih terbilang skala kecil sampai menengah, dan hanya memiliki beberapa karyawan. Ini adalah sebuah masa awal terbentuknya sebuah usaha sebelum akhirnya menjadi sebuah perusahaan atau korporasi.

Sebelum terbentuk sebuah perusahaan, para entrepreneur harus bisa bertahan dan memiliki strategi yang baik, karena start-up merupakan masa dimana sebuah bisnis mengalami ketidakstabilan, kadang bisa sampai untung besar atau bahkan rugi besar pula.

Fakta menunjukan hanya 20% start-up yang dapat bertahan dan menjadi sebuah perusahaan besar. 80% sisanya akan gugur pada 5 tahun pertama ketika  startup itu didirikan. Tapi tenang, ada beberapa cara agar anda sebagai seorang entrepreneur dalam membuat bisnis anda melewati masa startup ini menjadi sebuah perusahaan yang besar. Continue reading →

Kerja Di Rumah, Efektif Nggak Sih?

kerja-dari-rumah

 

Apakah Anda salah satu dari orang yang suka bekerja atau menjalankan bisnis di rumah secara remote atau jarak jauh? Atau saat ini Anda sudah memiliki karyawan yang bekerja untuk Anda dari rumahnya mungkin? Memang teknologi saat ini sangat memudahkan kita untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, berkolaborasi dengan orang banyak, mengirim dokumen, semua dari kenyamanan rumah. Namun baikkah ini untuk bisnis Anda?

CEO dari Yahoo!, Marissa Mayer, beberapa waktu lalu sempat membuat kebijakan baru untuk perusahaan tersebut: Seluruh karyawan Yahoo! yang bekerja di rumah diharuskan untuk berangkat ke kantor, atau mereka dapat meninggalkan perusahaan tersebut. Marissa meyakini karyawan yang bekerja di rumah (atau mereka sebut remote employee) kurang inovatif karena minimnya interaksi dengan orang lain.

Berita yang dimuat oleh website New York Times 25 Februari lalu ini menuai banyak respon yang beragam. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Marissa menuai protes dari kalangan remote employee-nya yang berjumlah ratusan. Continue reading →

Apa yang Sebenarnya Diinginkan Karyawan Anda?

Karyawan

 

Bukan rahasia lagi bila seorang karyawan yang nyaman dan puas dengan pekerjaannya adalah kunci dari kesuksesan bisnis Anda. Anda mungkin berpikir bahwa semakin besar Anda menggaji mereka, semakin besar pula loyalitas dan kepuasan mereka untuk menjalani pekerjaannya. Padahal, ada beberapa faktor lain yang mungkin luput dari perhatian Anda.

Berdasarkan data, 42% dari ketidaknyamanan di tempat kerja dikarenakan para pemimpin perusahaan tidak menjalin hubungan yang baik dengan karyawannya. 9 dari 10 pemimpin perusahaan mengatakan mengakrabkan diri dengan karyawan adalah penting untuk bisnis mereka.

Namun, pada kenyataannya, tiga perempat dari mereka tidak punya strategi untuk merekatkan hubungan baik dengan karyawan masing-masing.

 

Kenapa menjalin hubungan baik dengan karyawan itu penting?

Pertama, karyawan yang tidak akrab dengan bosnya menghabiskan uang perusahaan Anda lebih banyak. Penelitian Gallup menemukan bahwa pekerja yang tidak berhubungan baik dengan atasannya menghabiskan dana di Amerika sebesar $ 350 juta dalam setahun.

Kedua, karyawan yang punya hubungan baik dengan Anda pastilah akan membawa usaha Anda menuju kesuksesan. Perusahaan akan lebih maju hingga 10% dan meningkatkan pendapatan sebanyak 72%.

Ketiga, karyawan yang menyenangi atasannya akan menyelesaikan pekerjaan 50% lebih produktif dibandingkan yang tidak.

 

Uang adalah salah satu motivasi mereka, namun bukan yang paling besar.

Menurut McKinsey Quarterly, uang bukanlah segala-galanya yang dapat memotivasi karyawan.

  • 60% termotivasi karena bonus gaji yang didasarkan pada performa kerja mereka,
  • 67% termotivasi karena pujian dari atasannya,
  • 52% karena kenaikan gaji,
  • 63% karena perhatian dari bosnya,
  • 62% menginginkan untuk memimpin sebuah proyek di perusahaan tempat ia bekerja.

 

Jika karyawan memang tidak menginginkan uang, lalu apa yang sebenarnya mereka inginkan? Anda dapat membaca selengkapnya dalam infografik di bawah ini: Continue reading →

Membangun Tim Dengan Passion: Belajar Dari Facebook

Facebook

 

Facebook memperlakukan karyawannya dengan sangat baik: makanan gratis, laundry gratis, selama karyawan tersebut menghasilkan manfaat bagi perusahaan. Kuncinya adalah pada budaya perusahaan tersebut dan visi dari pemimpinnya, Mark Zuckerberg.

Mark punya cara yang menarik untuk merekrut karyawan penting. Biasanya jika sedang mewawancarai karyawan, seorang diretur atau manajer akan berkata, “Maaf, saya belum dapat mempekerjakan Anda. Semoga Anda beruntung di lain waktu.” Tetapi Mark malah mengajak calon karyawan tersebut jalan-jalan mendaki gunung, dengan pemandangan yang indah. Continue reading →

5 Cara Agar Karyawan Betah Selamanya

Karyawan

 

Sebuah riset mengenai sumber daya manusia baru-baru ini menghasilkan kesimpulan yang mengagetkan:

40% karyawan berencana untuk mencari pekerjaan baru dalam 6 bulan ke depan, dan 69% mengatakan mereka sudah mencari pekerjaan baru secara pasif.

 

Sebagai pengusaha, angka-angka tersebut cukup mencemaskan yaa. Kita sudah berhati-hati untuk merekrut karyawan terbaik, dan begitu kita sudah mendapatkannya, kita tentu ingin mempertahankannya, bukan?! Agar karyawan membuat komitmen jangka panjang pada perusahaan, sudah tentu majikan harus memberi mereka alasan yang baik. Kami menganjurkan agar majikan berupaya secara proaktif untuk membangun budaya kerja yang menciptakan hubungan yang kuat dengan karyawan mereka – budaya dengan komitmen jangka panjang, dan bahkan komitmen seumur hidup. Apa yang dapat majikan lakukan? Kami sarankan “5R”, sebagai berikut: Continue reading →